Semua berita

The Krontjonk Prothol: Ketika Musik Lintas Generasi Mendobrak Batas dan Menghidupkan Kembali Keroncong.

Dalam rangka memeriahkan Perayaan 25 Tahun Pastor Leo Berkarya di Yayasan Salib Suci pada 14 Juni 2024, sebuah proyek musik tak biasa hadir dari lingkungan sekolah melalui kolaborasi lintas unit dan lintas jenjang yang diberi nama The Krontjonk Prothol.

The Krontjonk Prothol: Ketika Musik Lintas Generasi Mendobrak Batas dan Menghidupkan Kembali Keroncong.

Bukan Sekadar Band, The Krontjonk Prothol Merayakan Kreativitas dan Warisan Musik Nusantara

Cirebon — Siapa bilang grup band sekolah harus selalu tampil dengan format yang itu-itu saja? Siapa bilang musik klasik hanya pantas dikenang, bukan dimainkan kembali? Dan siapa bilang keroncong harus selalu identik dengan panggung nostalgia?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang seolah dijawab melalui sebuah proyek musik unik bernama The Krontjonk Prothol.

Berangkat dari semangat eksplorasi dan keberanian keluar dari format band konvensional, kelompok ini mengaransemen ulang lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng karya Wieteke van Dort (Tante Lien) dan Nurleila karya Bing Slamet ke dalam nuansa keroncong. Sebuah eksperimen musikal yang bukan hanya menawarkan hiburan, tetapi juga mengajak generasi muda mengenal kembali kekayaan musik lintas zaman dan merefleksikan pentingnya menjaga warisan budaya melalui kreativitas.

Berawal dari kepercayaan sekolah untuk mengembangkan kegiatan ekstrakurikuler Band, sebuah gagasan muncul: menghadirkan ruang eksplorasi musikal yang tidak terpaku pada format band konvensional. Musik tidak harus selalu dimainkan sebagaimana aslinya. Lagu tidak harus terkurung dalam genre yang melekat padanya. Justru di antara batas-batas itulah kreativitas menemukan ruang untuk tumbuh.

Dari gagasan tersebut, lahirlah sebuah kolaborasi yang boleh dibilang tidak biasa. The Krontjonk Prothol mempertemukan guru-guru dari lintas unit dengan siswa dari lintas jenjang dalam satu proyek musikal. Perbedaan latar belakang, pengalaman, usia, dan cara pandang tidak menjadi penghalang, melainkan bahan bakar untuk menciptakan sesuatu yang segar.

Nama The Krontjonk Prothol sendiri membawa semangat eksperimental yang terasa jenaka, nyeleneh, dan jauh dari kesan terlalu serius. Namun, di balik namanya yang mengundang senyum, tersimpan gagasan yang cukup serius: musik adalah ruang bermain, ruang belajar, sekaligus ruang untuk mendobrak batas-batas kreativitas.

Ketika lagu lawas mendapat kehidupan baru.

Untuk proyek ini, The Krontjonk Prothol memilih dua lagu dari lintas zaman yang memiliki karakter berbeda, yakni Geef Mij Maar Nasi Goreng dan Nurleila.

Lagu Geef Mij Maar Nasi Goreng merupakan karya Wieteke van Dort, seniman kelahiran Surabaya yang dikenal pula dengan nama Tante Lien. Lagu berbahasa Belanda ini lahir dari kerinduan Van Dort terhadap Indonesia, termasuk kenangan akan makanan dan kehidupan yang pernah dikenalnya di tanah kelahirannya.

Sementara itu, Nurleila, karya Bing Slamet, membawa nuansa klasik yang lekat dengan khazanah musik populer Indonesia pada masanya.

Alih-alih sekadar memainkan kedua lagu tersebut sebagaimana versi aslinya, The Krontjonk Prothol memilih jalur yang lebih menantang: mengolahnya kembali ke dalam format keroncong. Di sinilah eksperimen musikal dimulai. Karakter lagu yang sudah dikenal dipertemukan dengan warna musikal yang berbeda. Aransemen, interpretasi, dan cara membawakan lagu menjadi ruang bagi para personel untuk berdialog dengan musik dari zaman yang berbeda.

Hasilnya bukan sekadar upaya membuat lagu lama terdengar baru. Proses ini menjadi kesempatan untuk memahami bahwa sebuah karya musik dapat terus menemukan makna dan pendengar baru ketika diolah dengan kreativitas, kepekaan, dan penghargaan terhadap karakter aslinya.

Keroncong: warisan yang tidak seharusnya berhenti sebagai nostalgia

Ada satu hal menarik di balik pemilihan keroncong sebagai format musikal proyek ini. Keroncong memiliki perjalanan sejarah panjang di Indonesia, terbentuk melalui perjumpaan dan perkembangan berbagai pengaruh budaya hingga menjadi bagian dari warisan musik Indonesia. Karena itu, keroncong tidak tepat dipandang sekadar sebagai musik masa lalu, melainkan sebagai tradisi musikal yang terus dapat dipelajari, dimainkan, dan dikembangkan. Namun, di tengah perubahan selera musik dan derasnya arus budaya populer, musik keroncong berisiko semakin jauh dari keseharian sebagian generasi muda. Bukan karena musik ini kehilangan nilai, melainkan karena kesempatan untuk mengenalnya secara langsung mungkin semakin terbatas.

The Krontjonk Prothol mencoba membuka pintu yang berbeda.

Bukan dengan menggurui generasi muda agar menyukai musik lama, melainkan dengan mengajak mereka mengalami sendiri bagaimana musik tersebut dapat dimainkan, diolah, dan dinikmati melalui pendekatan yang lebih dekat dengan semangat eksplorasi mereka.

Sebab, mengenal warisan budaya tidak selalu harus dimulai dari buku sejarah atau penjelasan panjang. Kadang-kadang, semuanya bisa dimulai dari sebuah gitar, permainan ritme, latihan bersama, dan keberanian mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Tradisi tidak harus dibekukan agar tetap lestari. Tradisi justru perlu diberi ruang untuk bernapas, bertumbuh, dan berdialog dengan zamannya.

Ketika guru dan siswa berada dalam satu panggung musikal

Hal lain yang membuat proyek ini istimewa adalah kolaborasi lintas generasi di dalamnya.

Dalam kegiatan pendidikan, guru sering berada pada posisi sebagai pengarah, sedangkan siswa menjadi pihak yang diarahkan. Namun, melalui proyek musik seperti ini, keduanya dapat bertemu dalam ruang yang berbeda: ruang tempat ide dipertukarkan, kemampuan diuji, kesalahan diperbaiki, dan kreativitas dibangun bersama. Di dalam musik, setiap orang harus belajar mendengarkan. Tidak cukup hanya memainkan bagian masing-masing dengan baik. Setiap personel perlu memahami bagaimana kontribusinya berhubungan dengan kontribusi orang lain.

Nilai-nilai tersebut menjadikan proyek ini lebih dari sekadar penampilan hiburan untuk sebuah acara perayaan. Ada proses belajar yang berlangsung secara nyata: keberanian mengambil risiko kreatif, kedisiplinan dalam latihan, kemampuan berkolaborasi, keterbukaan terhadap gagasan yang berbeda, dan kemauan untuk keluar dari zona nyaman. Inilah salah satu semangat yang ingin dikembangkan melalui ekstrakurikuler Band: bukan hanya membentuk siswa yang mampu memainkan instrumen atau tampil di atas panggung, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk menjadi pribadi yang kreatif, adaptif, dan berani mengeksplorasi kemungkinan baru.

Sebuah penampilan, sekaligus sebuah pernyataan

The Krontjonk Prothol dipersiapkan untuk mengisi acara Perayaan 25 Tahun Pastor Leo Berkarya di Yayasan Salib Suci pada 14 Juni 2024.

Kini, melalui publikasi late post yang dilengkapi video sesi latihan dan penampilan langsung, perjalanan proyek ini dihadirkan kembali sebagai dokumentasi kreativitas sekaligus pengingat bahwa pengalaman bermusik dapat meninggalkan pelajaran yang lebih luas daripada sekadar keberhasilan tampil di atas panggung.

Video latihan memperlihatkan proses di balik sebuah karya, sedangkan video penampilan langsung menghadirkan hasil dari proses tersebut. Keduanya menjadi bagian penting dari cerita: bahwa sesuatu yang tampak sederhana ketika disaksikan di atas panggung sesungguhnya dibangun melalui percobaan, penyesuaian, kerja sama, dan keberanian untuk memulai.

Pada akhirnya, The Krontjonk Prothol bukan semata-mata tentang keroncong, lagu lawas, atau format band yang tidak biasa. Ia adalah tentang cara memandang musik sebagai ruang yang terbuka bagi siapa saja untuk belajar, berkreasi, dan saling terhubung. Tentang bagaimana guru dan siswa dapat bertemu melalui bahasa universal bernama musik. Dan tentang bagaimana warisan masa lalu dapat menemukan tempatnya kembali di tengah kehidupan generasi masa kini.

Sebab, pendidikan seni tidak seharusnya hanya mengajarkan bagaimana memainkan sesuatu dengan benar. Pendidikan seni juga perlu membuka kemungkinan agar seseorang berani bertanya, mencoba, menciptakan, dan menemukan perspektif baru. The Krontjonk Prothol membuktikan bahwa menghargai masa lalu tidak berarti harus tinggal di dalamnya. Kita dapat membawa warisan itu ke masa kini, memberinya warna baru, lalu meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Dan siapa tahu, dari sebuah proyek yang berawal dari gagasan nyeleneh, lahir keberanian untuk melihat bahwa kreativitas memang tidak selalu tumbuh dari mengikuti jalan yang sudah tersedia.

Sometimes, the most meaningful music begins when we dare to play it differently. The Krontjonk Prothol — Different Generations, Different Sounds, One Creative Spirit. 

Behind the scene

Live scene

 

Galeri Kegiatan

Kembali
RUANG DISKUSI

Komentar Berita

Sampaikan tanggapan dengan sopan dan saling menghargai.

Login dengan Google untuk ikut berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi tanggapan.